Mau Bangun Brand Herbal? Pahami 3 Klasifikasi Obat Tradisional Ini!

Maklon Herbal / 17 April 2026

by Nose Herbal Indo

Banyak brand herbal bermunculan dengan konsep menarik dan manfaat yang menjanjikan. Tapi di balik itu, tidak sedikit yang justru sulit berkembang atau berhenti di tengah jalan. Bukan karena produknya kurang bagus, melainkan karena salah langkah sejak awal, terutama dalam menentukan jenis produk yang akan dibuat.


Padahal, dalam industri ini, tidak semua produk herbal itu sama. Berdasarkan regulasi dari BPOM, ada tiga klasifikasi obat tradisional yang perlu dipahami: jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Masing-masing punya standar, proses, dan kekuatan klaim yang berbeda, yang nantinya akan memengaruhi arah pengembangan produk hingga positioning di pasar.


Biar enggak salah langkah, artikel ini bakal bantu kamu memahami perbedaan ketiganya secara jelas. Buat yang lagi mau mulai atau mengembangkan brand herbal, wajib lanjut baca sampai habis!


Apa Itu Obat Tradisional?


Obat tradisional adalah salah satu bentuk pengobatan yang telah digunakan sejak lama dan masih menjadi pilihan banyak masyarakat hingga saat ini. Di tengah meningkatnya tren gaya hidup alami, penggunaan produk berbasis herbal juga semakin populer, baik untuk menjaga kesehatan maupun membantu mengatasi berbagai keluhan ringan.


Secara umum, obat tradisional merupakan produk yang berasal dari bahan alam, seperti tumbuhan, hewan, atau mineral, yang diolah menjadi ramuan atau sediaan tertentu. Penggunaannya biasanya didasarkan pada pengalaman turun-temurun yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.


Mengacu pada definisi dari BPOM, obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan ekstrak, atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan.


Seiring perkembangan industri, obat tradisional tidak lagi identik dengan ramuan sederhana. Saat ini, produk herbal juga telah hadir dalam berbagai bentuk modern, seperti kapsul, tablet, hingga cairan siap konsumsi. Hal ini menunjukkan bahwa obat tradisional terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar tanpa meninggalkan dasar utamanya sebagai produk berbasis bahan alami.


Klasifikasi Obat Tradisional Menurut BPOM


Seiring dengan perkembangan industri herbal, obat tradisional tidak hanya dinilai dari bahan alaminya saja, tetapi juga dari tingkat pembuktian dan proses pengembangannya. Inilah yang menjadi dasar mengapa obat tradisional di Indonesia dibagi ke dalam beberapa kategori.


Berdasarkan regulasi dari BPOM, obat tradisional diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Klasifikasi ini dibuat untuk memastikan bahwa setiap produk memiliki standar yang jelas, baik dari sisi keamanan, kualitas, maupun klaim yang dapat digunakan. Berikut adalah penjelasannya.


1. Jamu: Berbasis Pengalaman Turun-Temurun

Jamu merupakan jenis obat tradisional yang paling dikenal dan sudah digunakan sejak lama oleh masyarakat Indonesia. Produk ini umumnya dibuat dari bahan alami seperti tanaman herbal yang diracik berdasarkan resep turun-temurun.


Dalam proses pengembangannya, jamu belum melalui uji ilmiah modern seperti uji praklinis atau klinis. Namun, penggunaannya didasarkan pada pengalaman yang telah terbukti secara empiris di masyarakat.


Dari sisi bisnis, jamu sering menjadi pilihan awal karena proses pengembangannya relatif lebih cepat dan biaya yang lebih terjangkau. Cocok untuk brand yang ingin melakukan market testing atau mulai masuk ke industri herbal.


2. Obat Herbal Terstandar (OHT): Sudah Uji Praklinis

Obat Herbal Terstandar (OHT) merupakan pengembangan dari jamu yang sudah melalui tahap uji praklinis, biasanya dilakukan pada hewan uji untuk melihat keamanan dan efektivitasnya.


Selain itu, bahan yang digunakan dalam OHT juga telah melalui proses standarisasi, sehingga kualitasnya lebih konsisten dibandingkan jamu. Hal ini membuat OHT memiliki nilai tambah dari sisi kepercayaan konsumen.


Untuk bisnis, OHT cocok bagi brand yang ingin naik level dengan memberikan produk yang lebih terpercaya dan memiliki dasar ilmiah, tanpa harus langsung masuk ke tahap yang lebih kompleks seperti uji klinis.


3. Fitofarmaka: Herbal dengan Uji Klinis

Fitofarmaka merupakan kategori tertinggi dalam klasifikasi obat tradisional. Produk dalam kategori ini telah melalui uji klinis pada manusia, sehingga khasiat dan keamanannya dapat dibuktikan secara ilmiah.


Karena telah memiliki bukti klinis, fitofarmaka memiliki posisi yang lebih kuat di pasar dan bahkan dapat direkomendasikan dalam praktik medis.


Dari sisi bisnis, fitofarmaka cocok untuk brand yang ingin membangun positioning premium dan jangka panjang. Meskipun membutuhkan investasi yang lebih besar, kategori ini menawarkan nilai kepercayaan yang tinggi dan peluang diferensiasi yang lebih kuat.


Pentingnya Klasifikasi untuk Bisnis Herbal


Memahami klasifikasi obat tradisional bukan hanya penting dari sisi regulasi, tetapi juga sangat menentukan arah pengembangan bisnis herbal sejak awal. Dalam industri ini, produk tidak cukup hanya menarik dari segi konsep atau manfaat.


Brand juga perlu memahami produk yang dibuat akan masuk ke kategori jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), atau fitofarmaka, karena tiap kategori memiliki dasar pembuktian, standar bahan baku, dan tingkat pengujian yang berbeda. BPOM dan Kementerian Kesehatan sama-sama menjelaskan bahwa jamu bertumpu pada bukti empiris, OHT memerlukan uji praklinik serta bahan baku terstandar, sedangkan fitofarmaka memerlukan uji praklinik dan uji klinik dengan bahan baku serta produk yang terstandar.


1. Kecepatan Launching Produk

Salah satu dampak paling besar dari klasifikasi ini adalah pada kecepatan launching produk. Produk dengan kategori yang lebih sederhana tentu cenderung lebih cepat dikembangkan dibanding produk dengan tingkat pembuktian yang lebih tinggi.


Hal ini karena semakin tinggi klasifikasinya, semakin besar kebutuhan pengujian, dokumentasi, dan pembuktian ilmiah yang harus dipenuhi. Artinya, keputusan kategori produk sejak awal akan memengaruhi berapa lama brand bisa masuk ke pasar dan mulai bersaing.


2. Biaya Riset dan Pengembangan Produk

Klasifikasi juga berpengaruh langsung pada biaya riset dan pengembangan produk. Jamu umumnya lebih ringan dari sisi beban pembuktian dibanding OHT dan fitofarmaka.


Sementara itu, OHT memerlukan pengujian praklinik dan standardisasi bahan baku, lalu fitofarmaka membutuhkan tahapan lebih lanjut berupa uji klinik pada manusia. Semakin tinggi level pembuktian yang dibutuhkan, semakin besar pula investasi yang harus disiapkan, baik untuk riset, pengujian, dokumen teknis, maupun proses pengembangan produk secara keseluruhan.


3. Kekuatan Klaim Produk

Dari sisi pemasaran, klasifikasi menentukan kekuatan klaim yang bisa dibangun oleh brand. Produk herbal tidak bisa dikomunikasikan secara sembarangan karena setiap kategori memiliki batas pembuktian yang berbeda.


Produk yang masih berbasis empiris tentu memiliki ruang klaim yang berbeda dengan produk yang telah dibuktikan melalui uji praklinik atau uji klinik. Karena itu, memahami klasifikasi sejak awal akan membantu brand menyusun komunikasi yang lebih aman, lebih tepat, dan lebih selaras dengan nilai produk yang sebenarnya.


4. Positioning dan Target Market

Selain itu, klasifikasi sangat memengaruhi positioning dan target market. Jamu biasanya lebih dekat dengan pasar yang luas karena sudah akrab di masyarakat dan mudah dipahami.


OHT cenderung memberi nilai tambah karena sudah memiliki dasar ilmiah awal, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen.


Sementara fitofarmaka memiliki posisi paling kuat untuk membangun citra produk yang lebih premium, lebih evidence-based, dan lebih dekat dengan pendekatan medis. Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa fitofarmaka telah dibuktikan secara ilmiah melalui uji klinik dan bahkan didorong pemanfaatannya dalam pelayanan kesehatan.


5. Strategi Pertumbuhan Brand

Bagi pelaku usaha, klasifikasi juga penting karena berkaitan dengan strategi pertumbuhan brand jangka panjang. Tidak semua brand harus langsung masuk ke level tertinggi.


Ada brand yang lebih cocok memulai dari kategori yang lebih ringan untuk menguji pasar, membangun awareness, dan membaca respons konsumen terlebih dahulu. Setelah pasar terbentuk dan brand mulai kuat, pengembangan dapat diarahkan ke level yang lebih tinggi dengan pembuktian yang lebih lengkap. Pola seperti ini relevan karena secara resmi OHT dapat dikembangkan dari jamu, dan fitofarmaka dapat dikembangkan dari jamu atau OHT setelah memenuhi pembuktian yang dibutuhkan.


6. Proses Registrasi dan Kesiapan Dokumen

Klasifikasi juga berhubungan erat dengan proses registrasi dan kesiapan dokumen. Setiap kategori membawa kebutuhan data yang berbeda, sehingga sejak awal brand harus menyiapkan pendekatan yang sesuai, mulai dari pemilihan bahan baku, bentuk sediaan, pembuktian keamanan, hingga dokumen pendukung untuk pendaftaran.


Jika klasifikasinya tidak dipahami sejak awal, brand bisa salah menyusun strategi produk, salah menentukan klaim, atau menghadapi hambatan saat masuk ke tahap registrasi dan distribusi.


7. Model Bisnis yang Realistis

Dari perspektif persaingan pasar, klasifikasi bisa menjadi dasar untuk menentukan model bisnis yang paling realistis. Jika tujuan brand adalah masuk pasar lebih cepat dengan edukasi yang familiar, pendekatan kategori yang lebih sederhana bisa menjadi langkah awal yang lebih efektif.


Namun jika brand ingin membangun diferensiasi yang lebih kuat, kredibilitas ilmiah yang lebih tinggi, dan peluang masuk ke segmen yang lebih serius, maka strategi pengembangan produk juga perlu disesuaikan sejak awal.


Mau Bikin Produk Herbal? Yuk, Maklon di Nosé!


Kalau kamu tertarik untuk mulai mengembangkan produk herbal, prosesnya nggak harus rumit. Kamu bisa memulainya dengan partner maklon yang tepat. PT Nosé Herbal Indo hadir sebagai partner yang mendampingi brand secara menyeluruh, mulai dari pengembangan formula, pemilihan bahan, hingga produk siap dipasarkan.


Didukung oleh tim berpengalaman dan sistem produksi yang terstandar BPOM dan Halal, Nosé membantu memastikan setiap produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang terjaga dan mampu bersaing di pasar.


Jadi, kalau kamu ingin melangkah lebih jauh dalam membangun brand herbal, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai. Konsultasikan ide dan rencanamu bersama Nosé, dan temukan solusi maklon yang sesuai dengan kebutuhan bisnismu.


Share This Article


tiktok logo
instagram logo
Bicara dengan CS
whatsapp logo